Ketika Jarak Menentukan Nyawa: Analisis Teknis Kualitas Layanan Persalinan, Akses dan Faktor Geografis di Provinsi Bengkulu
Ketika Jarak Menentukan Nyawa: Analisis Teknis Kualitas Layanan Persalinan, Akses dan Faktor Geografis di Provinsi Bengkulu
BENGKULU, Rifqi.com-Kualitas layanan persalinan merupakan salah satu indikator fundamental dalam menilai kinerja sistem kesehatan, khususnya dalam konteks upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) sebagai target pembangunan kesehatan nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pelayanan persalinan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kompetensi tenaga kesehatan atau ketersediaan sarana medis di fasilitas pelayanan, tetapi juga oleh efektivitas sistem rujukan, pemerataan distribusi fasilitas kesehatan, kesiapan sumber daya manusia kesehatan, serta kondisi geografis dan infrastruktur wilayah tempat layanan tersebut diakses. (Luluk Susiloningtyas. (2024).
Sumber: mahasiswi profesi bidan kelas kota bengkulu
Dalam praktiknya, kualitas layanan persalinan merupakan hasil dari interaksi kompleks berbagai komponen sistem kesehatan. Keterbatasan pada salah satu komponen, seperti keterlambatan rujukan, jarak tempuh yang jauh, atau akses transportasi yang tidak memadai, dapat secara signifikan meningkatkan risiko komplikasi obstetri dan berujung pada kegagalan penanganan kegawatdaruratan persalinan. Oleh karena itu, analisis kualitas layanan persalinan tidak dapat dilepaskan dari konteks spasial dan struktural wilayah, terutama di daerah dengan karakteristik geografis yang menantang.
Provinsi Bengkulu merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang menghadapi tantangan geografis tersebut. Kondisi topografi yang bervariasi, mulai dari wilayah pesisir, dataran rendah, hingga daerah perbukitan dan pedalaman, berimplikasi langsung terhadap akses fisik masyarakat, khususnya ibu hamil, terhadap fasilitas kesehatan rujukan. Distribusi rumah sakit rujukan yang terkonsentrasi di pusat kabupaten atau kota, dikombinasikan dengan keterbatasan infrastruktur jalan serta sarana transportasi medis di sejumlah wilayah, menjadikan faktor jarak dan waktu tempuh sebagai determinan penting dalam keselamatan ibu saat melahirkan.
Dalam konteks ini, persalinan tidak lagi semata-mata menjadi peristiwa medis, melainkan peristiwa sistemik yang sangat dipengaruhi oleh kesiapan layanan kesehatan lintas tingkat, mulai dari bidan desa, puskesmas, hingga rumah sakit rujukan. Ketika sistem rujukan tidak berjalan secara cepat dan efektif, atau ketika hambatan geografis memperlambat akses terhadap pelayanan obstetri emergensi, risiko komplikasi persalinan meningkat secara signifikan. Situasi ini menunjukkan bahwa kualitas layanan persalinan di Provinsi Bengkulu perlu dipahami secara komprehensif dengan mempertimbangkan keterkaitan antara faktor pelayanan kesehatan dan kondisi geografis wilayah.
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara teknis dan mendalam bagaimana kualitas layanan persalinan di Provinsi Bengkulu dipengaruhi oleh akses rujukan dan faktor geografis. Analisis difokuskan pada mekanisme keterlambatan layanan, ketimpangan akses antarwilayah, serta implikasinya terhadap keselamatan ibu. Dengan pendekatan ini, artikel diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai tantangan struktural layanan persalinan di Provinsi Bengkulu serta menjadi dasar bagi perumusan kebijakan kesehatan ibu yang lebih kontekstual dan berbasis wilayah.
Angka Kematian Ibu dan Tantangan Wilayah
Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi salah satu indikator kesehatan masyarakat yang paling sensitif dalam menilai efektivitas sistem pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak. Di Indonesia, AKI tidak hanya merefleksikan kondisi klinis ibu saat persalinan, tetapi juga mencerminkan kualitas tata kelola layanan kesehatan, pemerataan akses, serta kesiapan sistem rujukan kegawatdaruratan obstetri. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa penyebab utama kematian ibu didominasi oleh komplikasi obstetri, seperti perdarahan postpartum, hipertensi dalam kehamilan termasuk preeklamsia dan eklampsia, infeksi, serta komplikasi lain yang terjadi selama proses persalinan dan nifas. Secara medis, sebagian besar komplikasi tersebut bersifat dapat dicegah apabila ibu memperoleh pelayanan persalinan yang berkualitas dan ditangani secara cepat melalui sistem rujukan yang efektif. (World Health Organization & United Nations Children’s Fund. (2019).
Namun demikian, kualitas pelayanan persalinan tidak dapat dilepaskan dari konteks wilayah tempat layanan tersebut berlangsung. Provinsi Bengkulu memiliki karakteristik geografis yang kompleks dan beragam, meliputi wilayah pesisir, dataran rendah, perbukitan, hingga daerah pedalaman yang relatif sulit dijangkau. Variasi kondisi geografis ini berimplikasi langsung terhadap pemerataan akses layanan kesehatan, khususnya akses terhadap fasilitas kesehatan rujukan yang mampu memberikan pelayanan obstetri emergensi komprehensif (PONEK). Pada saat yang sama, distribusi fasilitas rujukan di Bengkulu masih cenderung terpusat di wilayah perkotaan, sehingga menciptakan kesenjangan akses layanan bagi ibu hamil di desa-desa terpencil.
Kesenjangan akses tersebut menjadi sangat krusial ketika ibu menghadapi kondisi kegawatdaruratan obstetri yang memerlukan penanganan segera. Dalam situasi darurat, faktor jarak, waktu tempuh, dan kondisi infrastruktur jalan berperan sebagai determinan utama keselamatan ibu. Keterlambatan mencapai fasilitas rujukan dapat memperburuk kondisi klinis ibu dan meningkatkan risiko komplikasi berat hingga kematian. Oleh karena itu, faktor geografis bukan sekadar latar belakang kontekstual, melainkan bagian integral dari permasalahan kualitas layanan persalinan. (Amalia, S. R., Lestari, P., & Ningrum, A. G. (2022).)
Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu menunjukkan bahwa sejumlah kabupaten memiliki jarak tempuh yang relatif jauh dari desa ke rumah sakit rujukan dengan kondisi infrastruktur jalan yang belum sepenuhnya memadai. Kabupaten Lebong, misalnya, memiliki karakteristik wilayah pegunungan yang menyebabkan jarak tempuh menuju rumah sakit rujukan dapat melebihi lima puluh kilometer dengan akses jalan yang terbatas. Di Bengkulu Utara dan Seluma, meskipun kondisi topografi lebih beragam, jarak antardesa ke fasilitas rujukan masih relatif jauh dengan kualitas jalan yang bervariasi. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kecepatan dan efektivitas proses rujukan persalinan. (Halimatussa’diah Sari, S. D., Istiqomah S., & Lisda H. (2025).
Ketika jarak tempuh jauh dan akses jalan terbatas, proses rujukan sering mengalami keterlambatan, baik akibat keterbatasan sarana transportasi medis, kendala operasional ambulans, maupun lemahnya koordinasi antar fasilitas kesehatan. Akibatnya, ibu bersalin berisiko mengalami penanganan yang tidak tepat waktu, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap meningkatnya risiko komplikasi obstetri. (Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. (2022)
Ketimpangan Layanan dan Aktor Sistem Persalinan?
Permasalahan utama layanan persalinan di Provinsi Bengkulu adalah ketimpangan kualitas layanan yang dipengaruhi oleh keterbatasan akses rujukan dan kondisi geografis wilayah. Secara administratif, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Bengkulu tergolong tinggi dan mendekati target nasional. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya merepresentasikan kualitas layanan secara substantif. Kualitas layanan persalinan tidak hanya diukur dari kehadiran tenaga kesehatan saat persalinan, tetapi juga dari kesiapan fasilitas rujukan, ketersediaan layanan obstetri emergensi, kecepatan respons terhadap komplikasi, serta kesinambungan pelayanan lintas tingkat.
Ketimpangan tersebut tercermin dari keterlambatan rujukan obstetri dari fasilitas pelayanan tingkat pertama ke rumah sakit rujukan, keterbatasan sarana transportasi medis, ketidakseimbangan kapasitas fasilitas kesehatan antarwilayah, serta distribusi tenaga kesehatan terlatih yang belum merata, terutama dokter spesialis obstetri dan anestesi di rumah sakit rujukan kabupaten. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan layanan persalinan di Bengkulu bersifat struktural dan sistemik. (Hazira Y. Tanjung, S. R. Tumanggor, D. A. T. Wulandari, & F. P. Gurning. (2023).)
Kelompok yang paling terdampak secara langsung adalah ibu hamil dan ibu bersalin yang tinggal di wilayah pedesaan, perbukitan, dan daerah terpencil. Selain ibu, sistem layanan persalinan melibatkan berbagai aktor kunci, mulai dari bidan desa sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan ibu, puskesmas dan puskesmas PONED sebagai fasilitas pelayanan tingkat pertama, rumah sakit rujukan sebagai penyedia layanan obstetri emergensi komprehensif, pemerintah daerah sebagai pengambil kebijakan dan penyedia sumber daya, hingga keluarga dan masyarakat yang berperan dalam pengambilan keputusan awal rujukan. Interaksi antaraktor ini membentuk suatu rantai pelayanan persalinan, di mana keterlambatan atau ketidaksiapan pada satu titik dapat berdampak signifikan terhadap keselamatan ibu.
Faktor Geografis dalam Kerangka Three Delays Model ?
Hubungan antara faktor geografis dan kualitas layanan persalinan dapat dianalisis menggunakan kerangka three delays model, yang mencakup keterlambatan dalam pengambilan keputusan mencari pertolongan, keterlambatan mencapai fasilitas kesehatan, dan keterlambatan memperoleh pelayanan yang memadai di fasilitas kesehatan. Di Provinsi Bengkulu, faktor geografis berkontribusi paling besar pada keterlambatan tahap kedua, yaitu keterlambatan mencapai fasilitas rujukan. Jarak yang jauh, kondisi jalan yang buruk, serta keterbatasan ambulans menyebabkan waktu rujukan menjadi panjang, bahkan dalam kondisi kegawatdaruratan.
Keterlambatan pada tahap ini secara langsung meningkatkan risiko terjadinya komplikasi obstetri berat, seperti perdarahan postpartum, eklampsia, dan infeksi puerperium. Dalam konteks kegawatdaruratan obstetri, setiap keterlambatan, bahkan dalam hitungan jam atau menit, dapat berdampak fatal terhadap keselamatan ibu dan bayi. Dengan demikian, mekanisme keterlambatan rujukan yang dipengaruhi oleh faktor geografis tidak hanya menurunkan kualitas layanan persalinan, tetapi juga meningkatkan risiko kematian maternal.
Analisis Teknis Sistem Layanan Persalinan
Untuk menilai kualitas layanan persalinan secara komprehensif, digunakan kerangka analisis input–proses–output–outcome. Komponen input mencakup ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan, peralatan medis, obat-obatan, sarana transportasi, serta sistem komunikasi rujukan. Di wilayah terpencil Bengkulu, komponen input masih menunjukkan keterbatasan, baik dari sisi distribusi tenaga kesehatan, kesiapan puskesmas PONED, maupun ketersediaan ambulans yang siaga dan terjangkau. (Novita R., Budi U. (2024).
Komponen proses mencerminkan bagaimana input dimanfaatkan dalam pelayanan antenatal, deteksi dini risiko, pertolongan persalinan, dan mekanisme rujukan kegawatdaruratan. Di wilayah dengan hambatan geografis, proses rujukan sering kali berjalan lambat dan tidak terkoordinasi secara optimal, sehingga memperpanjang waktu penanganan komplikasi obstetri. (Analisis spasial risiko dan kerentanan wilayah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2022).
Ketidakseimbangan antara input dan proses berdampak langsung pada output dan outcome layanan persalinan. Risiko komplikasi obstetri meningkat, sementara penurunan AKI dan AKB menjadi terhambat. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelemahan pada tahap awal sistem pelayanan memiliki implikasi serius terhadap keselamatan ibu dan bayi. (Amalia, S. R., Lestari, P., & Ningrum, A. G. (2022).)
Penutup dan Rekomendasi
Secara keseluruhan, kualitas layanan persalinan di Provinsi Bengkulu sangat dipengaruhi oleh faktor geografis dan efektivitas sistem rujukan obstetri. Jarak geografis yang jauh, infrastruktur yang belum memadai, serta keterbatasan sarana transportasi medis terbukti memperbesar risiko keterlambatan penanganan persalinan berisiko. Permasalahan ini bersifat struktural dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan secara administratif.
Upaya peningkatan kualitas layanan persalinan perlu dilakukan secara terintegrasi dan berbasis wilayah. Penguatan kapasitas puskesmas PONED di lokasi strategis, pemerataan dan optimalisasi ambulans desa yang operasional 24 jam, serta penguatan koordinasi sistem rujukan melalui pemanfaatan teknologi informasi kesehatan merupakan langkah krusial. Selain itu, perencanaan kebijakan kesehatan ibu perlu didasarkan pada analisis kerentanan geografis dan spasial agar alokasi sumber daya lebih tepat sasaran.
Dengan pendekatan yang sistemik, berbasis bukti, dan kontekstual wilayah, peningkatan kualitas layanan persalinan di Provinsi Bengkulu diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan, sekaligus menurunkan risiko kematian ibu dan meningkatkan keselamatan ibu serta bayi.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, S. R., Lestari, P., & Ningrum, A. G. (2022). Causative Factor of Delay in Maternal Referral – Systematic Review. Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal. Causative Factor of Delay in Maternal Referral – Systematic Review
Luluk Susiloningtyas. (2024). Sistem Rujukan dalam Sistem Pelayanan Kesehatan Maternal Perinatal di Indonesia. Jurnal Ilmiah Pamenang. Sistem Rujukan dalam Sistem Pelayanan Kesehatan Maternal Perinatal di Indonesia
Halimatussa’diah Sari, S. D., Istiqomah S., & Lisda H. (2025). Description of Factors Risking Delivery Referrals in the Working Area of Mataraman Public Health Center Banjar Regency. International Journal of Applied and Traditional Medicine. Factors Risking Delivery Referrals in Banjar Regency
Hazira Y. Tanjung, S. R. Tumanggor, D. A. T. Wulandari, & F. P. Gurning. (2023). Analisis Pelaksanaan Sistem Rujukan Persalinan Peserta JKN di Puskesmas Pekan Labuhan Medan Labuhan. Jurnal Kesehatan Tambusai. Analisis Pelaksanaan
Sistem Rujukan Persalinan Peserta JKN – JKT
Ade Indah Khumairoh, Rukmaini, & Andi J. Rifiana. (2020). Analisis Sistem Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri di RSUD dr. Chasbullah Abdul Madjid Bekasi. Jurnal Ilmiah Kesehatan Delima. Analisis Sistem Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri – JIKD
Fadillah Salwa, A. D. Fitria, L. M. Dasopang, & F. P. Gurning. (2024). Implementasi Sistem Rujukan Persalinan Peserta JKN di Puskesmas Darussalam Kota Medan. Jurnal Kesmas Prima Indonesia. Implementasi Sistem Rujukan Persalinan Peserta JKN – JKPI
Andriani P. S. (2024). Aksesibilitas Kesehatan Maternal dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu di Kabupaten Gunungkidul. Journal of Information Systems for Public Health. Aksesibilitas Kesehatan Maternal – JISPH
Novita R., Budi U. (2024). Challenges of Health Workers in Primary Health Facilities in Implementing Obstetric Emergency Referrals to Save Women from Death in