Feature

Di Antara Tugas dan Tagihan: Perjuangan Mahasiswa Bertahan di Bangku Kuliah
Pukul 07.30 pagi, ruang kelas mulai dipenuhi mahasiswa yang sibuk membuka laptop dan menyiapkan catatan kuliah. Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa terlihat masih menguap menahan kantuk. Bagi sebagian orang, rasa lelah itu mungkin datang karena begadang mengerjakan tugas. Namun, bagi mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah, hari mereka bahkan dimulai jauh sebelum duduk di bangku kelas.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, ada perjuangan yang jarang terlihat. Tidak semua mahasiswa menjalani masa kuliah dengan tenang dan berkecukupan. Sebagian harus membagi waktu antara belajar, bekerja, dan memikirkan biaya hidup agar tetap bisa bertahan menyelesaikan pendidikan.
Menjadi mahasiswa sering digambarkan sebagai masa yang penuh kebebasan dan pengalaman baru. Banyak yang membayangkan kehidupan kampus identik dengan organisasi, pertemanan, dan kegiatan akademik yang menyenangkan. Namun kenyataannya, tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan menikmati masa kuliah dengan nyaman.
Bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, kuliah menghadirkan tekanan tambahan. Mereka tidak hanya memikirkan tugas dan nilai, tetapi juga biaya yang terus meningkat. Uang kuliah, biaya kos, makan harian, transportasi, hingga kebutuhan seperti internet dan fotokopi menjadi pengeluaran yang harus dipenuhi setiap bulan.
Kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa memilih bekerja sambil kuliah. Ada yang menjadi barista di kedai kopi, kasir minimarket, hingga pengemudi ojek online. Waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk belajar atau tidur sering kali dipakai untuk mencari penghasilan tambahan.
Ebit, mahasiswa semester lima, bekerja sebagai barista di sebuah kafe dekat kampus. Setelah kuliah selesai sore hari, ia langsung berganti pakaian dan mulai bekerja hingga malam.
“Kadang capek, apalagi kalau tugas lagi banyak. Tapi saya harus tetap kerja buat bayar kos dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Rutinitas tersebut perlahan memberi dampak pada kondisi fisik dan akademik mahasiswa. Kurang tidur menjadi hal yang biasa. Di kelas, mereka sering kesulitan fokus karena tubuh sudah terlalu lelah. Tidak sedikit pula yang mengalami penurunan nilai karena sulit membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah.
Selain kelelahan fisik, tekanan mental juga menjadi tantangan tersendiri. Rasa cemas soal uang sering muncul ketika kebutuhan semakin banyak sementara penghasilan terbatas. Beberapa mahasiswa bahkan harus mengurangi uang makan atau menunda membeli kebutuhan kuliah demi bertahan hingga akhir bulan.
Meski begitu, berbagai cara tetap dilakukan agar pendidikan tidak berhenti di tengah jalan. Sebagian mahasiswa berusaha mendapatkan beasiswa atau bantuan pendidikan seperti KIP Kuliah. Ada pula yang menerapkan hidup hemat dan mengatur waktu sebaik mungkin agar kuliah tetap berjalan.
Minda, mahasiswa penerima beasiswa, mengaku bantuan pendidikan sangat membantunya bertahan di bangku kuliah.
“Kalau tidak ada beasiswa, mungkin saya sudah berhenti kuliah karena kondisi ekonomi keluarga,” katanya.
Perjalanan menyelesaikan pendidikan memang tidak selalu mudah. Bagi sebagian mahasiswa, bertahan hingga semester berikutnya saja sudah menjadi kemenangan besar. Di tengah tugas yang menumpuk dan tagihan yang terus datang, mereka belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal mencari gelar, tetapi juga perjuangan mempertahankan mimpi di tengah keterbatasan.

Postingan populer dari blog ini